“BERSHALAT DALAM MAKNA”
Kebanyakan kita shlat dengan hafalan. Sangat jarang yang melakukan shalat dengan memahami maknanya. padahal kunci kekhusukan shalat adalah kefahaman tentang apa yang kita lakukan dan apa yang kita ucapkan. maka, mau tidak mau kita harus menggunakan akal untuk memahami makna shalat.
Jika tidak, maka hal yang menimpa laki-laki yang pernah disuruh Rasul mengulang shalatnya sampai tiga kali bakal meimpa pada kita. artinya, shalat kita ternyata tidak memiliki makna apa-apa. Dan dianggap belum melaksanakan shalat. Tentu shalat yang demikian bukanlah shalat yang diharapkan Rasulullah SAW. Apalagi kalau kita ingin ketemu Allah,tentunya sangatlah jauh. Karena itu, marilah kita mulai berusaha
memaknai setiap shalat kita.
Secara umum, makna shalat kita ada 2, yaitu ‘berdzikir’ dan ‘berddoa’. maka, sebelum kita memulai shalat, kita harus sudah membangun suasana hati, bahwa shalat itu bertujuan untuk berdzikir ban berdo’a.
1. Shalat sebagai Dzikir kepada Allah
Untuk apakah berdzikir itu? fungsinya adalah agar kita ‘ingat’ terus sama Allah. untuk apa ingat sama Allah? agar setiap ‘langkah kehidupan’ kita bermakna laa ilaaha allaallaah. Kenapa musti laa ilaaha allaallaah? Disinilah proses keimanan berperan penting! Orang yang tidak menggunakan akalnya tidak akan bisa menemukan jawabannya.
Proses kimanan yang baik adalah seperti yang di ajarkan oleh Nabi Ibrahim. Beliau beriman kepada Allah bukan karena memperoleh warisandari orang tuanya, atau gurunya. Beliau memperolehnya dengan cara ‘bereksperimen’: mencari ‘SESUATU’ yang layak dianggap sebagai Tuhan.
Maka Allah mengabadikan catatan sejarah ‘pencarian’ Ibrahim itu dalan Al-Qur’an. Dan kita semua umat Muhammad disuruhNya untuk meneladani beliau. Dan bahkan kemudian memjadikan do’ Ibrahim itu sebagai salah satu do’a yang kita baca setiap hari dalam sholat.
QS. Surat Al-An’am. ayat; 79.
|
|||||
Artinya: “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langin dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termak\suk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”
Dari pencariannya itulah Ibrahim akhirnya memperoleh kesimpulan yang sangat mendasar, bahwa kehidupan kita ini harus berorientasi kepada satu tujuan saja , yaitu Allah. Kenapa demikian? karena ternyata segala sesuatu yang selain DIA hanya semu belaka. Semuanya akan musnah dan binasa kecuali Allah saja.
Kesimpulan itulah yang merasuk ke dalam jiwa nabi Ibrahim, sehingga beliau memiliki keteguhan iman yang luar biasa . Tidak bisa digoyahkan meskipun diperintah untuk menyembelih anak yang di cintainya, ismail.
Segala yang kita miliki dan kita bangga-banggakan bakal lenyap. Harta yang bertumpuk, kekuasaan , penampilan diri, dan berbagai kecintaan pada dunia bakal berakhir seiring dengan berjalannya waktu. Akan tetapi Allah tidak. Itulah sebagian dari makna laa ilaaha illallah.
Karena itu semua tujuan hidup mesti kita arahkan kepada Allah saja. Dialah yang memiliki segala kebahagiaan Dunia dan kebahagiaan Akhirat. Maka jika Dia berkehendak, segalanya bisa bisa terjadi untuk kebahagiaan kita di Dunia dan di Akhirat nanti.
Inilah yang dimaksud dengan berdzikir kepada Allah. Bukan sekedar ingat Allah, dengan tidak jelas jluntrungannya, melainkan ingat dalam arti “laa alaaha illallaah”. Ingat bahwa seluruh eksistensi ini hanya milik Allah semata. Bahwa Allah-lah yang layak mengisi ingatan kita setiap saat, setap waktu. Itulah yang kita rasakan dalam shalat. Dan itu pula yang kita lakukan setelah shalat, sebagaimana Dia ajarkan dalam FirmanNya:
QS. Surat An-nisa’ ayat: 103.
فَإِذَاقَضَيْتُمُالصَّلاَةَفَاذْكُرُواْاللّهَقِيَامًاوَقُعُودًاوَعَلَ
ى جُنُوبِكُمْفَإِذَااطْمَأْنَنتُمْفَأَقِيمُواْالصَّلاَةَإِنَّالصَّلاَةَكَانَتْعَلَىالْمُؤْمِنِينَكِتَاب
ًا مَّوْقُوت
Artinya: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang di tentukan waktunya atas orang-orang yany beriman.”
Secara umum, dengan selalu ingat kepada Allah kita akan memetik banyak manfaat, di antaranya:
1. Hati kita akan selalu tenang dan tentram, jauh dari rasa was-was.
2. Menjadi orangyang tahan banting alias sabar dan tegar, karena kita merasa selalu dekat dengan Allah.
3. Menjadi orang yang ikhlas dan rendah hati, karena kita tahu bahwa kita ini memang kecil. Hanya Allah yang Maha Besar.
4. Terhindar dari perbuatan yang kotor (keji) dan merugikan (munkar) orang lain.
5. Menjadi orang yang Berhati Kaya alias tidak Serakah dan suka menolong orang lain, karena kita merasa dekat dengan dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Menyayangi.
Dan masih puluhan atau ratusan manfaat lagi yang bisa kita petik dari kedekatan kita kepada Allah. Secara umum allah mengatakan bahwa orang yang dekat dennan Allah akan terjauhkan dari rase sedih dan bakal gembira terus di Dunia maupun Akhirat.
QS. Surat Yunus, ayat: 62-64.
2. Shalat adalah Berdo’a
Seringkali shalat kita tidak bermakna sebagai do’a ( permintaan tolong kepada Allah). Shalat adalah sebuah kewajiban belaka. Sedangkan untuk berdo’a kebanyakan kita melakukan di luar shalat. Atau di waktu-waktu yang lain yang di anggap mustajab.
Padahal dalam Al-qur’an Allah memerintahkan kita berdo’a (minta tolong) kepadaNya dengan cara shalat. yaitu dalam surat|:
QS. Surat Al-Baqarah ayat 45&153, QS. Surat As-sajadah ayat: 15-16.
Nah,… Dengan demikian mestinya kita mulai merubah cara minta tolong kita kepada Allah. Cara berdo’a yang paling baik di anjurkan Allah adalah dengan melakukan shalat. Di dalam shalat itulah kita berdo’a dan memohon pertolongan atas berbagai permasalahan yang kita hadapi. Dan setelah itu , tunggulah hasilnya dengan penuh kesabaran.
Namun demikian, berdo’a memang tidak dibatasi hanya dalam shalat. Allah menerima do’a kita kapan saja kita butuhkan. Akan tetapi, shalat adalah tatacara yang secara formal diajarkan oleh Allah. Insya Allah jika kita mengikuti petunjuk tersebut do’a kita lebih mustajab.
Pada dasarnya, tatacara dan upacara-upacara di dalam sholat telah ditentukan oleh Rasulullah SAW. Akan tetapi, kita bisa memakai ucapan-ucapan itu dengan hal-hal yang sedang menjadi permasalahan dalam kehidupan kita. sehingga do’a kita di dalam sholat tidaklah hambar, melainkan ‘ngemacth’ alias nyambung dengan problem kehidupan sehari-hari.
Selain memberikan makna kepada do’a standart dalam shalat, pada saat-saat yang tidak di perbolehkan berdo’a secara lebih bebas dalam shalat kita. Di antaranya adalah pada saat i’tidal yaitu sesuai mambaca do’a i’tidal(contohnya ada yang membaca do’a qunut ada yang tidak).
Saat-saat yang lain adalah ketika duduk di antara dua sujud, dimana kita selalu mengucapkan do’a memohon kesehatan, risqi, pemohonan ampun dan minta ma’af, dsb. Juga di dalam sujud dimana kita sedang dalam kondisi terdekat kita dengan Allah. Dan akhirnya pada saat menjelang salam, setelah membaca tasahut akhir dan shalawat Nabi.
Begitulah, sangat banyak kesempatan yang diberikan kepada kita untuk berdo’a di dalam shalat. Intinya, agar shalat kita tidak terasa hambar. Tetapi memiliki muatan kebutuhan hidup dan permintaan tolong kepada Allah atas segala problem kehidupan kita.
Dan yang paling penting cari proses berdo’a kita itu adalah sikap hati. Janganlah kita ragu di dalam berdo’a. Yakinlah, Allah pasti menjawab do’a kita, asalakan kita memang bersungguh-sungguh di dalam berdo’a. Hal itu telah Dia janjikan dalam firmanNya. Nggak usah ragu! Sekali lagi jangan dengan prasangkahati kita. Kalau yakin, hasilnya ya meyakinkan, kalau ragu, hasilnya ya meragukan.
Sebelum lebih jauh kita membahas tentang makna do’a-do’a shalat, kalian mencermati firman-firman Allah dalam surat:
QS. Yunus, ayat:22, QS. As-Sajadah,ayat:16, Qs. Surat Al-Qalm:48, Qs, Al-Israa’:11, QS. Al-A’raaf:55.
Lewat ayat-ayat tersebut Allah mengajarkan kepada kita bahwa do’a yang baik adalah mengikuti kondisi-kondisi tsbt. Di antaranya adalah:
1. Berdo’alah dengan penuh keikhlasan hnya semata-mata kepada Allah saja.
2. Dengan rasa takut dan penuh harap.
3. Janganlah berdo’a dalam keadaan marah atau penuh kebencian atas perbuatan seseorang kepada kita.
4. Jananlah berdo’a dalam kejahatan, ikutilah jalan yang lurus yang diajarkan Allah dan Rasul kepada kita.
5. Ucapkanlah do’a kita dengan suara yang lembut dan merendah diri kpd Allah.
*Sumber: Terpesona Di Sidratul Muntaha_Agus Mutafa.

Belum ada komentar.
Tinggalkan Balasan
-
Arsip
- November 2008 (2)
- Oktober 2008 (1)
- September 2008 (2)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS







